Jumat, 04 Juli 2025

Ketika Ilmu Tak Lagi Bernyawa: “Kritik Filsafat terhadap Reduksi Spiritualitas dalam Pendidikan”

Nama Mahasiswa: Muhammad Irsyad Asshadiq 

Nim: 12401006

Semester/Kelas: 2/A

Prodi: Pendidikan Agama Islam

Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam

Dosen Pengampu: Syamsul Kurniawan, M.Si.


Pendidikan modern sering dipuja karena keberhasilannya mencetak individu cerdas dan terampil. Namun di balik itu, muncul paradoks yang mengkhawatirkan: semakin tinggi pendidikan, semakin besar pula jarak manusia dari nilai-nilai spiritual dan akhlak. Banyak peserta didik yang pintar secara kognitif tetapi kering secara emosional dan moral. Fenomena ini menjadi perhatian dalam dunia pendidikan Islam, yang sejatinya tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga pembinaan hati dan jiwa (qalbu).

Esai ini bertujuan untuk mengkritisi reduksi nilai-nilai spiritual dalam pendidikan kontemporer dengan pendekatan filsafat pendidikan Islam. Dalam filsafat Islam, pendidikan dipandang sebagai jalan untuk menyempurnakan manusia secara total: akal, jasmani, dan ruhani. Dengan pendekatan ini, kita akan melihat mengapa pendidikan hari ini terasa “tak bernyawa” dan bagaimana solusi Islam mampu menghidupkan kembali esensi pendidikan sebagai proses penyucian diri dan pembentukan manusia paripurna (insan kamil)                                


Tinjauan Teoritis

Pendidikan dalam Islam secara hakikat bukan hanya proses mentransfer pengetahuan, tetapi merupakan proses penyempurnaan manusia (takamul al-insan). Pendidikan harus mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki manusia: akal, hati, jiwa, dan tubuh. Dalam pandangan Kurniawan (2021), “pendidikan Islam adalah usaha sadar yang bersifat holistik untuk membentuk kepribadian tauhidi melalui penyatuan antara dimensi akal dan ruh.”

Hal ini berbeda dengan pendekatan pendidikan modern yang seringkali mengotak-kotakkan antara aspek intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan modern cenderung berorientasi pada penguasaan informasi dan keterampilan, bukan pada pembinaan manusia secara utuh. Sebaliknya, filsafat pendidikan Islam memandang bahwa pendidikan adalah sarana untuk mengabdi kepada Allah (ibadah) dan mewujudkan peran kekhalifahan di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah: 30).

Menurut Muslikhah (2020), “filsafat pendidikan Islam menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang memiliki potensi ruhaniyah, bukan sekadar objek sistem pendidikan yang harus disesuaikan dengan pasar kerja.” Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak hanya ditujukan untuk dunia, tetapi juga menyiapkan kehidupan akhirat, menjadikannya transendental sekaligus fungsional.


Pandangan Tokoh dan Literatur

Beberapa pemikir kontemporer menyuarakan kritik terhadap sistem pendidikan modern yang cenderung mengabaikan nilai-nilai spiritual. Syamsul Kurniawan (2021) dalam bukunya “Paradigma Pendidikan Islam Holistik” menyatakan bahwa “krisis pendidikan saat ini terjadi karena hilangnya dimensi spiritual sebagai fondasi ilmu, sehingga menghasilkan manusia yang terampil namun tidak bijak.” Ia menekankan pentingnya pendekatan tauhid dalam pendidikan untuk menyatukan antara akal, hati, dan amal.

Sementara itu, Siti Muslikhah (2020) dalam Jurnal Filsafat menulis bahwa “filsafat pendidikan Islam perlu tampil sebagai kritik terhadap disorientasi pendidikan kontemporer yang cenderung menempatkan peserta didik sebagai mesin akademik, bukan manusia utuh yang memiliki ruh.” Pernyataan ini menunjukkan pentingnya mereposisi tujuan pendidikan agar kembali pada misi pembentukan manusia paripurna.

Dalam studi lain, Aulia & Hasan (2023) menyoroti bahwa di tengah era digital dan tekanan prestasi, banyak peserta didik mengalami kekosongan makna belajar. Mereka cenderung memandang pendidikan sebagai alat mencapai status sosial, bukan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.


Krisis Spiritulitas dalam Pendidikan Modern

Dalam sistem pendidikan modern, keberhasilan cenderung diukur dari hasil akademik seperti nilai rapor, sertifikat, atau ranking, sementara nilai-nilai spiritual seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan kesadaran ilahiah sering kali terpinggirkan. Menurut Novianti dan Garzia (2020) dalam jurnal Jurnal Pendidikan Karakter, “Pendidikan karakter yang tidak didukung oleh pembiasaan nilai spiritual hanya akan menjadi slogan dalam kurikulum, tanpa dampak nyata terhadap sikap siswa.”

Contoh nyata dari krisis ini bisa dilihat dalam maraknya kasus kekerasan dan perundungan antar siswa, termasuk yang terjadi di sekolah berbasis agama sekalipun. Misalnya, kasus bullying di Klaten (2025) yang menyebabkan kematian seorang siswa menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kecerdasan spiritual. Selain itu, fenomena mencontek digital, penggunaan teknologi AI secara tidak etis, serta jual beli jawaban ujian online semakin umum terjadi di sekolah dan kampus sejak pandemi COVID-19.

Nurfadhilah (2022) dalam Jurnal Pendidikan Islam menyoroti bahwa “Era digital mempercepat kemajuan akses pendidikan, tetapi tidak menjamin peningkatan akhlak peserta didik. Ketika pendidikan hanya menjadi alat meraih status, maka ruh spiritual terlepas dari substansinya.”


Realita Pendidikan: Contoh dan Fenomena Mutakhir

Realitas pendidikan di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan peserta didik lebih banyak ditentukan oleh aspek akademik semata, seperti nilai ujian, sertifikat lomba, dan peringkat kelas. Namun, di balik itu, terdapat ironi mendalam: perilaku tidak etis seperti mencontek, manipulasi data tugas, hingga bullying semakin meningkat bahkan di sekolah berbasis nilai agama.

Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2024 menunjukkan bahwa bullying berbasis digital meningkat drastis setelah pandemi, termasuk dalam bentuk ujaran kebencian antar siswa di grup WhatsApp kelas atau media sosial. Hal ini membuktikan bahwa spiritualitas dan nilai karakter belum benar-benar membumi dalam proses pendidikan, sebagaimana disampaikan oleh Aulia & Hasan (2023): “Ruang kelas modern tidak lagi menjadi ruang pembinaan akhlak, melainkan arena persaingan yang kehilangan kehangatan dan kebermaknaan.”

Kekosongan ruh pendidikan  juga tampak dari banyaknya siswa dan mahasiswa yang mengalami krisis makna belajar. Mereka merasa pendidikan hanya untuk nilai dan gelar, bukan untuk membentuk jati diri.


Argumentasi Filosofis: Urgensi Integrasi Spiritualisme dalam Pendidikan

Filsafat pendidikan Islam memandang bahwa manusia bukan hanya makhluk berpikir, tetapi juga makhluk spiritual dan moral. Oleh karena itu, pendidikan yang sejati harus menyentuh keseluruhan aspek kemanusiaan, termasuk dimensi ruhani dan transendensi.

Menurut Kurniawan (2021), pendekatan pendidikan Islam harus “berbasis tauhid, yaitu menyatukan ilmu, amal, dan nilai ilahiah dalam satu sistem utuh yang tidak terfragmentasi.” Artinya, pendidikan Islam tidak cukup hanya mengajarkan konten agama, tetapi harus menghadirkan nilai-nilai spiritual dalam setiap proses pembelajaran dari cara guru menyapa murid hingga desain kurikulum.

Tanpa spiritualitas, pendidikan berubah menjadi mekanisme teknokratis yang mencetak manusia unggul secara kompetensi, tetapi rapuh dalam moralitas.

Sebaliknya, dengan integrasi nilai spiritual, pendidikan dapat menjadi sarana pembinaan insan kamil: manusia yang utuh dalam berpikir, merasa, dan bertindak.


Kesimpulan
Krisis spiritualitas dalam pendidikan kontemporer merupakan akibat dari sistem yang memisahkan ilmu dari akhlak, akal dari hati, dan hasil belajar dari nilai ketuhanan. Melalui pendekatan filsafat pendidikan Islam, kita melihat bahwa pendidikan tidak boleh sekadar menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk manusia yang berakhlak, bermakna, dan sadar akan tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.

Rekomendasi/Harapan

Sudah saatnya pendidikan Islam menghidupkan kembali ruh spiritualitas dalam seluruh aspek pembelajaran, baik melalui kurikulum, metode pengajaran, maupun teladan guru. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan pendidik harus mulai merancang ulang model pendidikan berbasis tauhid, yaitu pendidikan yang menanamkan makna dan nilai dalam setiap ilmu yang diajarkan. Dengan demikian, kita tidak hanya mencetak manusia yang unggul, tetapi juga manusia yang berjiwa.


Referensi

Aulia, N. R., & Hasan, M. (2023). Krisis Spiritualitas di Kalangan Pelajar: Relevansi Pendidikan Islam sebagai SolusiJurnal Pendidikan Islam Kontemporer, 5(1), 55–70.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2024). Laporan Tahunan Perlindungan Anak. [online].

Kurniawan, S. (2021). Paradigma Pendidikan Islam Holistik: Menyatukan Akal, Qalbu dan Amal. Malang: Madani Press.

Muslikhah, S. (2020). “Filsafat Pendidikan Islam sebagai Kritik atas Disorientasi Sistem Pendidikan Nasional.” Jurnal Filsafat, 30(1), 89–102.

Novianti, N., & Garzia, M. (2020). Pendidikan Karakter di Era Revolusi Industri 4.0: Studi Reflektif. Jurnal Pendidikan Karakter, 10(1), 1–10.

Nurfadhilah, S. (2022). Tantangan Pendidikan Islam di Era Digital: Telaah Integrasi Nilai Spiritual dalam Pembelajaran Online. Jurnal Pendidikan Islam, 14(2), 155–170.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketika Ilmu Tak Lagi Bernyawa: “Kritik Filsafat terhadap Reduksi Spiritualitas dalam Pendidikan”

Nama Mahasiswa: Muhammad Irsyad Asshadiq  Nim: 12401006 Semester/Kelas: 2/A Prodi: Pendidikan Agama Islam Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan I...